Pages

Kosmologi; Peradaban Yunani Kuno

Sejarah mencatat, kosmologi lahir pertama kali pada zaman Yunani kuno sekitar abad ke-5 sebelum masehi. Thales, seorang yang kemudian dijuluki sebagai filsuf pertama dalam tradisi Yunani kuno, masa hidupnya bisa sedikit terlacak berdasarkan fakta bahwa ia pernah memprediksikan bahwa akan terjadi gerhana matahari, yang menurut para astronom terjadi pada tahun 585 SM.
Penemuan paling dini yang merupakan hipotesis-hipotesis yang benar dikemukakan oleh Anaximander yang menyangka bahwa bumi mengapung bebas. Disusul kemudian oleh Pythagoras dengan menjadi orang pertama yang berpendapat bahwa bumi berbentuk bulat, tetapi alasan dia berpendapat demikian sepertinya lebih untuk keindahan daripada ilmiah. Akan tetapi alasan-alasan ilmiah pun segara ditemukan. Anaxagoras, ia menemukan bahwa bulan bersinar karena memantulkan cahaya, dan mengemukakan teori yang benar mengenai gerhana. Ia masih menyangka bumi berbentuk datar, tetapi bayangan bumi yang tampak disaat gerhana bulan menjadi dasar argumen yang pasti bagi kaum Pythagorean untuk berpendapat bahwa bumi itu bulat. Para pengikut Pythagoras ini melangkah lebih jauh dan berpendapat bahwa bumi merupakan salah satu planet dari beberapa planet yang bergerak melingkar mengitari sebuah “api sentral” yang tidak tampak dan mereka menyebutnya sebagai “Wisma Zeus”.
Mereka juga menduga bahwa matahari bersinar sebagai akibat pantulan cahaya dari api sentral tersebut. Selain bumi, menurut mereka ada benda langit lain, yakni pengimbang-bumi yang berada pada jarak yang sama dari api sentral. Dalam hal ini mereka mempunyai dua alasan yang salah satunya merupakan alasan yang sifatnya ilmiah, yaitu berupa observasi yang sudah benar bahwa gerhana bulan kadang terjadi ketika bulan ataupun matahari berada di atas cakrawala.
Namun, mereka belum mengetahui bahwa pembiasan yang merupakan penyebab dari fenomena ini disebabkan oleh bayangan bumi melainkan mereka menduga bahwa kejadian gerhana disebabkan oleh bayangan benda langit yang lain. Sedangkan alasan lainnya merupakan alasan mistis yang menyatakan bahwa matahari, bulan, lima planet, bumi, dan pengimbang-bumi beserta api sentral, merupakan sepuluh benda langit, dan sepuluh adalah bilangan mistik bagi kaum Pythagorean. Kendatipun pendapat tersebut untuk sebagian lebih bersifat khayali daripada bersifat ilmiah, tetapi hal ini merupakan sebuah penemuan penting yang diperlukan bagi lahirnya hipotesis Copernicus.
Tak lama setelah Anaxagoras dan kaum Pythagorean, banyak bermunculan beberapa ahli ilmu perbintangan Yunani yang melakukan berbagai observasi, seperti Oenopides, Heraclides, dan Aristarchus. Mereka semua telah mengemukakan hipotesis Copernican dan meyakini bahwa bumi bukanlah pusat dari alam semesta. Lebih-lebih Aristarchus, ia memberikan gagasan yang jauh menuju suatu pandangan alam semesta yang modern. Ia mengemukakan hipotesis Copernican secara lengkap dengan menyatakan bahwa bumi bukanlah pusat semua benda ruang angkasa, bahkan semua planet termasuk bumi berputar mengelilingi matahari serta bumi berotasi pada porosnya sendiri sekali dalam setiap dua puluh empat jam.
Aristoteles yang kerap menyangkal hipotesis-hipotesis terbaik pada zamannya, tidak sepakat dengan anggapan bahwa bumi bukan pusat alam semesta. Bahkan ia menduga bahwa bumi tetap di tempat dan matahari, bulan, planet dan bintang-bintang mengikuti garis edar melingkar mengitari bumi. Ia meyakini hal ini dengan alasan mistis, bahwa bumi adalah pusat alam semesta, dan gerakan melingkar merupakan gerakan yang paling sempurna. Ternyata gagasan ini yang banyak diterima secara umum pada masa itu. Gagasan ini dipungut oleh Gereja Kristen, karena model ini menyisakan ruang di luar bola bintang-tetap untuk surga dan neraka. Gagasan ini kemudian dikerjakan lebih lanjut oleh seorang astronom bernama Ptolemeus yang, kemudian dikenal sebagai sistem Ptolemaik yang dewasa pada pertengahan abad ke-2 Masehi. Dalam astronomi lama, sistem Ptolemaik lebih dominan daripada sistem Aristotelian, dan bertahan hingga sekitar 1300 tahun.
Menurut tradisi yang bercorak Aristotelian ini, alam semesta terorganisasi dalam lapisan-lapisan langit, masing-masing membawa sebuah bintang dan berotasi mengelilingi bumi yang diam sebagai pusat alam semesta. Dalam sistem Ptolemaik, bumi berada di pusat, dikelilingi oleh delapan bola: bulan, matahari, bintang dan lima planet yang telah dikenal pada saat itu, yaitu Merkurius, Venus, Mars, Jupiter dan Saturnus, dengan model alam semesta yang terbatas dan kekal. Memang, untuk pengertian ini tidak ada alasan ilmiah yang mendasarinya, hal itu hanya disesuaikan dengan gagasan orang Yunani bahwa lingkaran merupakan bentuk yang sempurna, serta alasan mistis bahwa bumi adalah pusat alam semesta, dan yang terutama, karna memang begitulah yang tampak dari bumi. Gagasan episiklus adalah solusi untuk gerakan ganjil pada bulan dan beberapa planet yang sama sekali tidak tampak mengelilingi bumi, alih-alih bergerak mundur. Sebagai misal, planet Mars yang kadang tampak tidak mengelilingi bumi, malah bergerak mundur. Demikian juga, seharusnya bulan itu tampak dua kali lebih besar pada suatu kali dibadingkan pada kali yang lain. Ptolemeus menyadari akan cacat ini. Meskipun demikian, modelnya dapat diterima secara umum, meski tidak oleh semua orang.

Sumber tulisan:
  1. Hawking, Stephen W, A Brief History of Time: from the Big Bang to Black Holes, Toronto: Bantam Books, 1988.
  2.  Hawking, Stephen W, A Brief History of Time: From the Big Bang to Black Holes, Toronto: Bantam Books, 1988. Riwayat Sang Kala: Dari Dentuman Besar hingga Lubang Hitam, terj. A. Hadyana Pudjaatmaka, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1994.
  3.  Cayne, Berdnard S., ed. et.al, Ilmu Pengetahuan Populer, USA: Grolier International, Inc., Jakarta: PT. Widyadara, 2005
  4. Bertens, K., Sejarah Filsafat Yunani, Yogyakarta: Kanisius, 1999. Russell, Bertrand, History of Western Philosophy and its Connection with Political and Social Circumstances from the earliest Times to the Present Day, London: 1946. Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik dari Zaman Kuno hingga Sekarang, terj. Sigit Jatmiko et.al, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pikirlah baik-baik sebelum berkomentar...