Pada
tahun 1750 M telah diketahui bahwa bumi kita berada pada sebuah galaksi yang
terdiri dari ribuan bintang yang disebut sebagai Bima Sakti (MilkyWay). Bahkan
seorang astronom bernama William Herschel telah mendata posisi dan jarak
sejumlah besar bintang. Namun data-data ini baru dapat diterima secara lengkap
pada awal abad ke-20, dan pada abad ke-20 diketahui bahwa galaksi kita
berbentuk piringan cakram (seperti spiral). Galaksi kita mempunyai garis tengah
sekitar seratus ribu tahun-cahaya. Galaksi ini berputar lambat-lambat; bintang-bintang
dalam lengan-lengan spiralnya beredar mengitari pusat galaksi sekali dalam tiap
beberapa ratus juta tahun. matahari hanyalah sebuah bintang kuning biasa dengan
ukuran rata-rata, dan terletak di dekat pinggir dalam dari salah satu lengan
spiral galaksi kita itu.
Pada
tahun 1924 M, seorang astronom Amerika Edwin Hubble melangkah lebih maju
daripada para astronom sebelumnya. Dalam penelitiannya di Observatorium Mount
Wilson California, ia melahirkan sebuah gambaran modern tentang alam semesta.
Hubble menemukan bahwa Bima Sakti hanyalah satu dari beberapa ratus milyar
galaksi yang ada di alam semesta ini, yang dapat dilihat dengan menggunakan
teropong modern. Tiap-tiap galaksi berisi beberapa ratus milyar bintang, dan
diantara galaksi-galaksi ini terdapat kawasan yang sangat luas yang merupakan
ruang kosong. Untuk membuktikan hal ini diperlukan pengukuran untuk menentukan
jarak antar galaksi. Edwin Hubble menggunakan metode dengan mengukur
kecemerlangan kentara sebuah bintang yang bergantung pada berapa banyak cahaya
yang dipancarkan (luminositas) dan jaraknya dari mata kita. Menurut Hubble
jarak sebuah galaksi dapat dihitung dengan mengukur luminositas sebuah bintang
yang berada pada galaksi lain dengan terlebih dahulu mengetahui jarak dan
luminositas bintang dekat yang dapat dihitung. Hubble mencatat bahwa tipe-tipe
bintang tertentu selalu sama luminositasnya. Dengan menggunakan metode ini,
Edwin Hubble menghitung jauhnya sembilan galaksi yang berlainan.
Penelitian
ini ternyata tidak mudah. Letak bintang-bintang itu begitu jauh dari bumi.
Sinar yang dipancarkan, yang sampai pada kita hanya sebesar ujung jarum. Lalu
bagaimana orang bisa membedakan tipe-tipe itu? Penelitain ini dilakukan dengan
berdasar pada karekteristik kebanyakan bintang. Pada kebanyakan bintang, hanya
ada satu segi karekteristik yang dapat diamati, yaitu warna komponen cahayanya
(spektrum) seperti warna pada pelangi. Hubble menghabiskan waktu
bertahun-tahun untuk mendaftar jarak dan mengamati spektranya.
Pada
beberapa penelitian astronom lain sekitar dalam dasawarsa 1920-an ditemukan
bahwa terdapat geseran merah―lawan dari geseran biru―bintang bintang pada
galaksi lain dengan berdasarkan hukum fisika yang dikenal sebagai Efek Dopler. Hal itu
berarti bahwa galaksi-galaksi saling menjauhi satu sama lain. Pada waktu itu,
kebanyakan orang membayangkan galaksi bergerak kian kemari dengan sangat acak.
Jadi tentu mereka mengira bahwa mereka akan menjumpai spektra bergeser biru
sebanyak spektra bergeser merah. Akan tetapi suatu hal yang sangat mengejutkan,
dalam penelitian ditemukan bahwa ternyata kebanyakan galaksi tampaknya bergeser
merah; hampir semuanya bergerak menjauhi kita. Yang lebih mengejutkan lagi
penelitian Hubble yang diumumkan dalam tahun 1929 M menyatakan, bahwa ukuran
geseran merah galaksi itu tidaklah acak, melainkan berbanding lurus dengan
jauhnya galaksi itu dari kita. Atau dengan kata lain, makin jauh galaksi itu,
maka semakin cepat ia bergerak menjauh. Hal ini menunjukkan bahwa alam semesta
tidak statis, seperti disangka orang-orang sebelum penemuan ini, akan tetapi ia
memuai; jarak antara berbagai galaksi itu terus menerus bertambah.
Penemuan
bahwa alam semesta memuai merupakan salah satu revolusi intelektual besar dalam
abad ke-20. Sebenarnya, tentang pemuaian alam semesta ini sebelumnya telah
dikemukakan oleh seorang ahli fisika dan matematika dari Rusia, Alexander
Friedman (1922 M) sebagai solusi persamaan medan Einstein (teori relativitas
umum) yang memperlihatkan muaian ruang.
Hasil
pengamatan Hubble atas memuainya alam semesta memberikan sebuah telaah baru, di
mana jika alam semesta bergerak mundur ke masa lampau yang sangat jauh, maka
alam semesta merupakan sebuah titik tunggal. Semua materi alam semesta
berkumpul dalam satu titik tunggal tersebut. Dan alam semesta ini tercipta dari
sebuah dentuman besar yang disebut Big Bang. Ruang dan waktu memiliki awal
yaitu pada saat dentuman besar terjadi. Dengan demikian sebelum terjadinya
dentuman besar tidak ada ruang dan waktu. Dan tak seorangpun dapat
memprediksikan apa yang ada pada saat itu. Semua hukum fisika dan matematika
menjadi runtuh. Teori umum realtivitas yang selama ini dinilai memberi gambaran
paling lengkap mengenai kosmos, mengalami kegagalan di titik mula tak
terdefinisi yang diramalkan sendiri. Titik itu adalah singularitas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Pikirlah baik-baik sebelum berkomentar...