Melihat
fakta bahwa sains lahir dan berkembang di Barat dengan para pelaku utama yang
diperankan oleh orang-orang non Islam, maka dirasa perlu untuk mencari tahu:
apakah benar bahwa Islam benar-benar tidak memiliki kontribusi apa-apa terhadap
kemajuan yang diraih oleh sains modern? Benarkah umat Islam hanya menjadi
penikmat saja?
Kemajuan
yang dicapai oleh bangsa Yunani memang diakui lebih unggul dari pada kemajuan
yang diperoleh pada bangsa-bangsa lain pada saat itu. Bahkan dalam pandangan
dunia akademik, pandangan utama tentang asal usul filsafat dan sains Yunani
kuno menganggap faktor-faktor lokal budaya Yunani sendiri sebagai pencetus
pemikiran rasional dalam peradaban Yunani. Jika ditemukan bukti faktor eksternal,
maka akan cenderung disamarkan dan diremehkan dengan alasan, bangsa Yunani
adalah bangsa yang giat dan kreatif, serta tidak mudah menerima bulat-bulat apa
saja yang datang dari luar. Sikap ini merupakan sikap kesukuan demi mempertahankan
sifat ke-yunani-an dan ke-eropa-an pencapaian intelektual Yunani sebagai
lambang supremasi peradaban Barat, yang dianggap lebih maju dan lebih hebat
dari apa yang mampu dihasilkan oleh peradaban lain pada zaman itu, dengan
meyakinkan dunia akademik bahwa peradaban Yunani merupakan hasil murni kreasi
dan daya cipta bangsa Yunani tanpa tercemari oleh unsur budaya non Yunani. Hal ini juga
menegaskan sikap arogansi dunia Barat, bahwa bangsa lain telah berhutang besar
atas ciptaan bangsa Yunani yang merupakan sumbangan terbesar bagi peradaban
lain yang kurang maju di dunia.
Padahal,
jika dikaji lebih dalam lagi, terdapat banyak bukti sejarah yang mengindikasikan
terjadinya pergesekan antara kebudayaan Yunani kuno dengan kebudayaan-kebudayaan
bangsa lain yang pada zaman itu juga telah memiliki sebuah peradaban yang
tinggi, seperti Mesir, Babylonia, Persia, India atau Cina, sehingga tidak
menutup kemungkinan peradaban bangsa-bangsa ini ikut andil serta memberikan
kontribusi terhadap perkembangan pemikiran pada zaman Yunani kuno. Ini dapat
dibuktikan dengan berbagai hujjah yang ditemukan dalam beberapa
penelitian yang telah dilakukan para ahli sejarah dunia. Adapun hujjah itu dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
a.
Hujjah dari
sumber klasik
Dengan
berpedoman kepada sumber klasik Yunani, seperti Phaedo dan Timaeus karya Plato, Life of Eminent
Philosophers karya
Diogenes Laertius, dan Histories tulisan Herodotus, seorang Profesor
bernama George G.M. James dalam bukunya yang berjudul Stolen Legacy:
Greek Philosophy is Stolen Egyptian Philosophy, ia menunjukkan
betapa besar utang ilmu para pemikir Yunani kuno kepada peradaban Mesir Zaman
Besi.
James
memberikan tesis dasar yang berbunyi, bahwasanya para filosof Yunani kuno
seperti Thales, Phythagoras, Socrates, Plato dan lainnya, telah menerima
pendidikan atau setidaknya meminjam buah pikiran dari para pendeta Mesir.
Sejarah mencatat, ketika peradaban Yunani mulai bergolak ke arah pemikiran
rasional, ramai para pemikirnya yang berasal dari Ionia (sekarang Turki Barat)
dan kepulauan Aegean pergi menuntut ilmu di Mesir yang ketika itu memang
terkenal sebagai serambi pujangga, filosof dan ahli sains. Hanya saja dalam
perkembangan ilmiah selanjutnya buah pikiran Mesir tersebut dibawa ke Yunani
dan ditulis kembali dalam bahasa Yunani secara besar-besaran tanpa dinyatakan
sumber asalnya secara terus terang dan terperinci.
b.
Hujjah sejarah
kuno dan sejarah sosio-intelektual
Martin
Bernal dalam bukunya yang berjudul Black Athena, menulis hasil penyelidikannya
mengenai keterangan-keterangan yang menandai adanya jalinan kebudayaan dan
intelektual yang meluas lagi erat antara peradaban Semit (Yahudi), Yunani dan
Mesir. Jalinan ini melahirkan ciri-ciri kesejajaran dan keserupaan tertentu di
antara bahasa Yunani, Semit dan Mesir. Terbukti, bahwa meski bahasa Yunani
termasuk dalam rumpun bahasa Indo-Eropa, ternyata banyak meminjam dari
perbendaharaan kata bahasa Kan’an/Funesia (Semit) dan bahasa Mesir.
c.
Hujjah sejarah
filsafat dan sains
George
Sarton menegaskan, keajaiban Yunani dalam bidang sains sebenarnya telah
didahului oleh ribuan tahun pencapain sains di Mesir dan Babylonia. Oleh sebab
itu, pandangan bahwa sains bermula dari Yunani adalah pemalsuan hakikat sejati
yang merupakan sikap “kekanak-kanakan”. Dalam hal ini Sarton menyatakan, sains
Yunani sebenarnya lebih merupakan suatu pemulihan dari pada penciptaan.
Katanya:
“…dokumentasi sejarah tentang sains Mesir dan
Mesopotamia biasanya sangat tepat, bahkan lebih tepat daripada dokumentasi
tentang sains Yunani. Sesungguhnya para peneliti tentang Mesir dan Assyria
lebih beruntung karena dapat menangani dokumen-dokumen asli, sementara para
peneliti tentang Yunani Helenis terpaksa puas dengan serpihan-serpihan, dengan
petikan dan pandangan tidak langsung, dengan salinan atas salinan yang sangat
terpisah zamannya dari naskah dokumen asal.”
Dari
beberapa hujjah
di
atas, dapat kita lihat bahwa perkembangan pemikiran yang terjadi pada bangsa
Yunani kuno merupakan hasil dari pergesekan antara kebudayaan dan peradaban bangsa
Yunani dengan kebudayaan dan peradaban bangsa-bangsa lain. Karena jika suatu
kegiatan intelektual dipandang sebagai saintifik hanya setelah melalui proses
abstraksi, pengaturan dan rasionalisasi, maka bangsa Mesir dan Babylonia lebih
berhak dijuluki sebagai pelopor sains daripada golongan Prasokrat. Ini karena
di satu pihak pencapaian bisa dibuktikan melalui dokumen-dokumen asli yang
masih terpelihara, sedangkan di pihak lain, laporan tentang pencapaiannya lebih
bersifat andaian (assumptions), kabar angin
(hearsay) dan
legenda-legenda yang termuat dalam sumber-sumber sekunder yang dipisahkan oleh
rentang masa yang sangat lama dari sumber-sumber aslinya yang telah hilang ke
dalam perut zaman.
Setelah
diketahui bahwa gerakan rasionalisme yang berkembang di Yunani yang kemudian
menghasilkan karya-karya di bidang filsafat dan sains, ternyata tak lepas dari
pengaruh tradisi saintifik, kebudayaan dan peradaban bangsa-bangsa yang memang
telah ada sebelumnya, dan segera kita akan mengetahui pula asal usul sains modern
atau revolusi ilmiah.
Dalam
kosmologi klasik, sistem Ptolemaik bertahan cukup lama, yaitu dari abad ke-2
masehi bahkan sebelumnya―dalam bingkai kosmologi Aristotelian―hingga kemunculan
sains modern abad ke-15 masehi. Jadi ada rentang waktu kurang lebih 13 abad di
Barat mengalami kevakuman. Bahkan abad-abad ini merupakan abad kegelapan bagi
dunia Barat. Dimana masalah kemiskinan merajalela, kekerasan yang mengakibatkan
masyarakat menderita, perebutan kekuasaan, ketidak stabilan politik dan
lainnya.
Sebagaimana
diketahui, bahwa dalam 13 abad tersebut, kurang lebih 7 abad sebelum kemunculan
sains modern, masa itu adalah masa-masa kejayaan peradaban Islam.
Dalam
dunia Islam, geliat dan semangat menimba ilmu pengetahuan, hadir bersama
terutusnya Nabi Muhammad sebagai Rasul pada tahun 610 masehi. Alquran
sebagai kitab suci umat Islam, selain berisi tentang dasar-dasar peraturan hidup
manusia dalam hubungannya dengan Tuhan maupun dalam hubungan sosialnya, juga
memerintahkan manusia untuk senantiasa mengamati alam dan menggunakan akalnya,
dua dasar metodologi sains, seperti Q.S.
al-Baqarah (2): 164
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi,
silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa
yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air,
lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia
sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan
antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran
Allah). Bagi kaum yang memikirkan.
Bahkan
Alquran juga menyebutkan, bahwa Allah akan mengangkat derajat orang yang
beriman dan berilmu beberapa derajat, Q.S.
Mujadilah (58): 11,
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan
Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Ketika
Islam Lahir, pada saat itu bangsa Arab dikelilingi oleh bangsa-bangsa yang
berkebudayaan tinggi dan megah, seperti Persia, Romawi, Yunani dan India. Sebagai
masyarakat yang baru lahir, jika Islam hendak memiliki kebudayaan dan peradaban
yang tinggi, maka harus mempelajari kebudayaan bangsa-bangsa lain yang lebih
maju. Beramai-ramailah umat Islam mempelajari kebudayaan non Arab. Ada yang
melalui jalur pendidikan, ada pula yang melalui proses penerjemahan literatur-literatur
non Islam. Dengan cara inilah ilmu pengetahuan dalam Islam mengalami
perkembangan pesat hingga mencapai kejayaan Islam pada masa pemerintahan Bani
Abbasiyah yang sedang berada ditangan Al Ma’mun (813-833 M), setelah selesainya
pemerintahan Khulafa
ar Rasyidin dan
setelah pemerintahan bani Umayyah yang didahului dengan segala kekacauan dan
pergolakan dalam dunia Islam yang bermotif politik an sich.
Al
Ma’mun mendirikan Bait
Alhikmah, yaitu
sebuah perpustakaan sebagai pusat pendidikan dan penerjemahan yang dilengkapi
dengan sebuah observatorium astronomi. Di dalamnya terdapat karya-karya Plato,
Aristoteles, Hippocrates, Galen, Ptolemy yang telah diterjemahkan ke dalam
bahasa Arab.
Hal
ini kemudian menjadi inspirasi bagi Dinasti Fatimiyah di Mesir untuk mendirikan
Dar
Alhikmah yang
memiliki fungsi yang tidak jauh beda dengan Bait Alhikmah.
Adapun
penerjemahan yang banyak dilakukan oleh umat Islam sebagian besar merupakan
warisan literatur-literatur zaman Yunani kuno, bahkan literatur-literatur pada
masa sesudahnya atau Hellenistik, yaitu masa sesudah meninggalnya Alexander
Agung sampai berkuasanya Romawi atas wilayah-wilayah Hellenistik. Pemikiran
Yunani yang ditransfer ke dalam Islam di samping warisan Hellenis, juga warisan
intelektual Hellenistik, yang keduanya disebut Hellenisme.
Kontak
intelektual dunia Islam dengan Hellenisme membawa pengaruh yang sangat dalam
bagi peradaban Islam, khususnya di bidang pemikiran Islam. Penerjemahan
terhadap karya-karya Hellenisme tidak hanya meninggalkan karya-karya terjemahan
belaka atau karya-karya saduran belaka. Pada masa awal penerjemahan banyak
bermunculan karya Muslimin yang biasanya berujud ikhtisar atau interpretasi buku
yang berasal dari Yunani. Selanjutnya, lahirlah generasi penulis-penulis Muslim
orisinil. Mereka tidak lagi hanya menerjemahkan, membuat ikhtisar, komentar,
atau sekedar mengutip, tetapi juga telah mengembangkannya dengan melakukan
perenungan, pengamatan ilmiah dan memadukan dengan ajaran-ajaran Islam sehingga
karya-karya tersebut oleh Lapidus dan Bernard Lewis dikatakan sebagai
karya-karya umat Islam murni dan asli. Mendukung pendapat kedua ahli sejarah di
atas, Nurcholis Madjid menegaskan bahwa mustahil karya-karya tersebut dianggap
sebagai carbon
copy Hellenisme.
Masa-masa
kejayaan Islam telah melahirkan manusia-manusia luar biasa, baik dari kalangan
filosof ataupun ilmuwan, seperti: Jabir bin Hayyan (721-815 M), bapak ilmu kimia
dengan bukunya al
Khawas al Kabir;
Al Khawarizmi (780- 850 M), astronom dan ahli matematika dengan bukunya al Kitab al
Mukhtashar fi Hisab al Jabr wa al Muqabalah; Al Kindi (801-869 M), filsuf
pertama dalam Islam dengan bukunya Risalah fi Madkhal al Aritmatiqi dan Risalah al
Kammiyah al Mudafah;
Al Farabi (870- 50 M), sorang filsuf dan penyuka seni dengan bukunya Agrad al Kitab
ma Ba’da at Tabi’ah;
Ibn Haitsam (956-1039 M), ahli fisika dan matematika dengan bukunya al Syukûk alâ
Bathlamyûs, Kitab al Manazir dan Mizan al Hikmah; Al Biruni
(973-1048 M), astronom dan ahli geologi dengan bukunya al Qanun al
mas’udi fi al Hai’ah wa an Nujum dan masih banyak yang lainnya.
Khusus
dalam bidang astronomi, pada mulanya teks-teks yang diterjemahkan ke dalam
bahasa Arab (abad ke-8) berasal dari India dan Persia, sehingga ia juga
menginduk kepada astronomi keduanya. Namun, sejak abad ke-9 penerjemahan
diutamakan kepada astronomi Yunani. Para astronom menyadari bahwa tradisi
astronomi Yunani jauh lebih unggul daripada tradisi Persia dan India.
Pada
saat itu, secara umum, Yunani masih memegang prinsip geosentris Ptolemeus yang
dia tulis dalam bukunya yang berjudul Almagest dan Planetary Hypothesis
yang
masih memiliki cacat dalam teori episiklusnya, dan pengkajian terhadap model
Ptolemy ini telah dilakukan oleh banyak astronom Muslim dengan melakukan
berbagai reformasi.
Reformasi
astronomi pada masa Islam mengambil bentuk yang berbeda-beda. Pada abad ke-9
pada masa khalifah Al Ma’mun, sebuah program pengamatan astronomi diorganisasikan
di Baghdad dan Damaskus. Program ini bertujuan untuk melakukan verifikasi
terhadap pengamatan Ptolemeus dengan membandingkan hasil yang diperoleh dari
kalkulasi yang didasarkan pada model Ptolemeus dengan pengamatan aktual yang
dilakukan di Baghdad dan Damaskus. Hasil-hasilnya dikumpulkan dalam al Zij al
Mumtahanah (Tabel-Tabel yang Telah Diverifikasi). Demikianlah,
sudah sejak awal, astronomi Arab telah meralat dan melengkapi astronomi
Ptolemeus.
Pemeriksaan
terhadap astronomi Ptolemeus ini membawa perubahan pada kegiatan astronomi
sesudahnya. Pada abad ke-10 dan 11 tidak lagi membahas astronomi secara
keseluruhan, akan tetapi justru berfokus kepada aspek-aspek spesifik astronomi.
Periode ini memiliki kecenderungan untuk menghasilkan karya-karya sistesis yang
tuntas mengenai topik-topik khusus astronomi. Ini tercermin dalam karya
terbesar Al Biruni (973-1048 M), al Qanun al mas’udi fi al Hai’ah wa an
Nujum, sebuah
sistesis dari tradisi-tradisi astronomi Yunani, India dan Arab. Al Biruni
adalah yang pertama membahas secara sistematis mengenai hubungan sains dan
filsafat.
Sesudah
abad ke-11 sistem Ptolemaik kembali menjadi objek kajian para astronom Islam.
Gagasan episiklus Ptolemeus benar-benar melanggar prinsip-prinsip fisika. Hal
ini telah disadari oleh banyak astronomi di dunia Islam, seperti Abu ‘Ubaid Al
Juzjani (w. 1070 M) salah seorang murid Ibn Sina, dalam bukunya Tarkib al Aflak,
mengindikasikan bahwa baik dia maupun gurunya, sadar akan apa yang disebut
problema equant
dalam
model Ptolemeus.
Karya
terbesar pada periode ini adalah al Syukûk alâ Bathlamyûs yang ditulis
Ibn Al Haitsam (956- 1039 M). Di dalamnya menguraikan problema-problema fisika
dan filosofis yang saling berkaitan (inheren) dalam sistem astronomi Yunani dan
mencantumkan ketidakkonsistenan teoritis yang dimiliki model Ptolemeus.
Setelah
itu, sains dalam Islam semakin berkembang. Pada abad ke-13 sekitar dua puluh
astronom mengumpulkan data selama dua puluh tahun dan bekerja sama dalam sebuah
observatorium Maragha di Timur, yang merupakan observatorium pertama yang
terorganisir, yang di dalamnya terkonstruksi instrumen-instrumen dan juga
perpustakaan. Mereka bekerja di dalam kerangka astronomi Ptolemaik sekaligus
juga melakukan kritik terhadapnya.
Kepala
observatorium ini, Nasir al Din al Tusi bersama rekan-rekannya berupaya
menyelesaikan masalah-masalah teoritis dalam model Ptolemeus, dengan mengadopsi
beberapa strategi matematis. Hal ini memiliki tujuan utama untuk menghasilkan
model-model di mana gerakan planet-planet bisa menjadi sebuah gerakan melingkar
yang seragam. Al Tusi juga bersama Mu’ayyid al Din al 'Urdhi menemukan alat
pertama yang disebut Kopel Tusi yang menghasilkan osilasi linier sebagai hasil
kombinasi dua gerakan melingkar yang seragam. Ini juga yang kemudian digunakan
oleh Copernicus pada abad ke-15 untuk mengembangkan teorinya.
Di
sisi lain, dalam dunia filsafat, Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath Thusi an
Naisaburi (450 H/1058 M – 505 H/1111 M) yang akrab dengan panggilan Al Ghazali
saja, untuk pertama kalinya menghancurkan otoritas Aristoteles. Al Ghazali
melakukan kritik terhadap metafisika Aistoteles yang dikembangkan oleh Al
Farabi dan Ibn Sina, dan pada saat yang sama menabur bibit-bibit filsafat
mekanika, fondasi metafisika untuk sains modern, dan kontribusinya itu tidak hanya
destruktif,
tetapi
juga konstruktif.
Untuk
memasuki suatu periode baru seperti Renaissance dan kemudian untuk
mencapai revolusi ilmiah; prasyarat pertama adalah menghancurkan pegangan pada
Aristoteles, yang Al Ghazali lakukan adalah hal yang menakjubkan dalam Tahafut al
Falasifah di
penghujung abad ke-11. Penolakan yang sama terhadap Aristoteles juga dilakukan
di Barat pada abad ke-13, orang-orang Barat pada hakikatnya mengulangi apa yang
Al Ghazali telah capai. Sebab kalau kita melihat kaitan antara Islam dan Barat
sangatlah erat. Filsafat Aristoteles dapat kembali masuk ke Barat adalah atas
jasa umat Islam.
Di
Barat, pada abad ke-13 terjadi kegiatan penerjemahan dalam skala yang cukup
besar. Hampir seluruh buku Aristoteles, para filosof Yunani lain, dan para filosof,
teolog, dan ilmuwan Islam semua diterjemahkan dari bahasa Arab ke latin. Di
antara karya-karya yang diterjemahkan itu adalah: bagian-bagian yang bersifat fisika
dan filosofis karya Ibn Sina, Kitab al Syifa’, diterjemahkan
oleh Dominicus Gundissanilus dan John dari Sevilla di Toledo pada abad ke-12;
Alfred dari Sareshel menerjemahkan bagian-bagian tentang kimia dan geografi di
Spanyol pada awal abad ke-13; dan al Qanun fi al Thibb,
diterjemahkan oleh Gerard dari Cremona di Toledo pada abad ke-12. Karya-karya
Ibn Rusyd, yang dikenal di dunia Kristen Latin dengan nama Averroes, yang
diterjemahkan oleh Michael Scot pada awal abad ke-13. Karya-karya Ibn Al
Haitsam, diterjemahkan oleh lebih dari satu penerjemah menjelang akhir abad
ke-12. Karya karya Al Farabi, diterjemahkan oleh Gerard dari Cremona di Toledo
pada abad ke-12. Karya-karya Abu Bakar Al Razi yang dikenal dengan nama Rhazez,
diterjemahkan oleh Gerard dari Cremona dan Moses Farachi di Toledo dan Sisilia
abad ke-12 dan 13. Karyakarya Al Kindi diterjemahkan oleh Gerard dari Cremona
di Toledo pada abad ke- 12. Karya-karya Al Khawarizmi diterjemahkan oleh
Adelard dari Bath dan Robert dari Chester pada abad ke-12. Karya-karya Jabir
bin Hayyan diterjemahkan oleh berbagai penerjemah pada abad ke-12 dan 13.
Sementara
Al Ghazali telah mempersiapkan ide-ide yang dituangkan dalam Tahafut al
Falsifah dalam
tiga tahun, orang-orang Barat menghabiskan sekurang-kurangnya sepuluh tahun
untuk mencoba memahami impilikasi-implikasi dari ide-ide Aristoteles seperti
yang ditafsirkan Ibn Sina. Reaksi pertama atas Aristoteleanisme muncul pada
tahun 1210 M, sebuah dewan uskup Kristen mengeluarkan keputusan yang melarang
pengajaran filsafat kealaman Aristoteles di fakultas-fakultas sastra. Lima
tahun kemudian, keputusan ini diperbarui oleh duta paus, Robert de Courcen.
Pada sekitar tahun 1230 M orang orang Barat mulai membaca komentar-komentar Ibn
Rusyd untuk mempelajari ide-ide asli Artistoteles ketimbang membaca versi
NeoPlatonis yang ditawarkan Ibn Sina. Pelarangan terhadap karya-karya
Aristoteles (1210, 1215 dan 1231 M) tidaklah berjalan lama, dan pada tahun 1240
M, Roger Bacon mulai mengajarkan ide-ide Aristoteles kepada mahasiswanya pada
fakultas sastra di Paris. Pada tahun 1255 M, Aristoteles mendapatkan posisi
terhormat di lingkungan Perguruan Tinggi tersebut. Dalam statuta yang baru
memasukkan dan mengesahkan semua karya Aristoteles yang diketahui ke dalam
kurikulum, bahkan menjadi syarat bagi mahasisiwa untuk mendapatkan gelar magister
mereka.
Pada
periode yang sama, para pengikut Ibn Rusyd, Siger de Brabant (1240-1284 M) dan
Boethius of Dacia (1270 M) secara publik di fakultas sastra Paris
mempertahankan bahwa antara filsafat dan teologi mustahil dikompromikan. Sehingga
pada tahun 1270 M, Etienne Tempier uskup Paris, mengutuk tiga belas proposisi
Aristoteles termasuk ide-ide yang dijelaskan di muka. Karena pengutukan ini
tidak sepenuhnya mengurangi semangat Aristotelianisme radikal, maka pada 1277
M, ia beraksi atas Aristotelianisme dengan lebih keras dengan mengutuk 219
proposisi Aristoteles, Ibn Rusyd, dan Thomas Aquinas.
Kehancuran
dan perlawanan terhadap otoritas Aristoteles―hal ini seperti Al Ghazali yang
tidak mengikuti Aristoteles―menguatkan otoritas Platonisme dan Pythagoreanisme.
Selama hampir satu abad, matematika dan astronomi merajai sains. Dan Copernicus
tidak mempunyai alasan memadai untuk menempatkan matahari di pusat kosmos
kecuali demi keanggunan konstruksi metematis. Copernicus berhasil menghilangkan
lingkaran episiklus Ptolemeus bagi planet-planet yang bergerak untuk
menjelaskan posisi mereka di langit dalam hubungannya dengan bumi.
Lonjakan
imajinatif ini yang gagal dilakukan oleh banyak ahli astronomi Muslim termasuk
Ibn Al-Haitsam, Mu'ayyad Al-Din Al-'Urdhi dan Nasir Al-Din Al-Thusi. Dalam
kenyataannya, sejak terbitnya karya Swerdlow dan Neugebaeuer, Mathematical
Astronomy in Copernicus’s De Revolutionibus, mustahillah mengingkari
hubungan Copernicus dengan tradisi astronomi Islam, terutama sejak masa Maragha.
Kenyataan ini dengan sangat jelas ditunjukkan oleh Swerdlow dan Neugebaeuer
yang menyebut Copernicus sebagai figur terakhir dari jajaran astronom Maragha.
Baik Copernicus maupun para pendahulunya menangani masalah yang sama.
Copernicus menggunakan teorema yang juga dirumuskan oleh Al ‘Urdhi untuk
memperbarui model Ptolemeus bagi planet-planet luar. Dia juga memanfaatkan
teorema lain yang sekarang disebut Kopel Thusi sesuai dengan nama penemunya,
Nashir Al Din Al Thusi.
Proses
peralihan tradisi saintifik Islam ke Barat berlangsung begitu cepat. Meski
sedikit menimbulkan fluktuasi, namun Eropa memang beruntung dapat menikmati
stabilitas politik dan kemakmuran ekonomi setelah abad ke-11. Orang-orang
Mongol harus kembali ke negeri mereka pada tahun 1241, karena raja mereka di
Mongolia mati dan mereka harus memilih pemimpin baru mereka sebelum orang-orang
Mongol menginvansi keseluruhan Eropa. Sebaliknya dalam dunia Islam, kekacauan
politik terjadi di mana-mana, tentara Kristen mengusir umat Islam dari Spanyol,
terjadi perang saudara sehingga kerajaan Islam terpecah menjadi negara-negara
kecil yang memudahkan bagi orang-orang Mongol untuk menyerang dan merusak
bagian-bagian dari negeri-negeri Islam pada abad ke-13.
Dengan
mewarisi pencapaian dari negeri-negeri Islam dalam berbagai area melalui
penerjemahan dan kontak-kontak personal dengan umat Islam, orang-orang Barat
mulai membangun struktur sains dan teknologi modern. Transformasi cara pandang
orang barat dari cara pandang abad pertengahan menuju cara pandang
modern―dengan runtuhnya otoritas gereja dan menguatnya otoritas sains―ditandai
dengan gerakan Renaissance
yang
dikumandangkan oleh Francis Bacon (1561-1626 M), Voltaire (1694-1778 M),
Condorcet (1743-1794 M) dan sejarahwan Swiss Jacob Burchhardt (1818-1897 M).
Hingga tahun-tahun awal abad ke-20 gerakan ini tidak mendapat tantangan; secara
umum memang diakui bahwa abad pertengahan merupakan abad kegelapan bagi dunia
Barat.
Dengan
demikian penghargaan terhadap kontribusi kaum Muslim masih dirasakan di Barat. Namun dalam
masa satu abad, penghargaan tersebut segera berubah. Islam dan kaum Muslim
terhapus dari ingatan Eropa sebagai pemain utama dalam kemajuan sains, dan
peran mereka kemudian diturunkan ke warga negara kelas dua; sebuah posisi yang
tertanam kukuh dalam kesarjanaan Barat selama hampir 500 tahun dan mereka baru
memperoleh penghargaannya kembali setelah abad ke-20.
Belakangan
tampak ada usaha-usaha untuk merehabilitasi abad pertengahan. Eropa
tampaknya berusaha menegakkan kembali sebuah peradaban yang didasarkan pada
khazanah klasiknya sendiri. Ia perlu mengukuhkan kaitan langsung dengan
keklasikannya sendiri dan hal ini membawa para filosof dan saintis Renaissans
kepada penemuan warisan Yunani, dan perlahan melupakan kontribusi gerakan
penerjemahan Eropa yang telah mendatangkan sejumlah besar karya canggih tradisi
saintifik Islam ke dunia Barat.
Mereka
membentuk kembali kerangka intelek kaum Muslim itu sendiri, menyatakan ulang
dan memperbarui konsep-konsepnya, mengembangkan pendekatan yang baru terhadap
yang Ada, mengembangkan konsep baru tentang pengetahuan, dan konsep baru
tentang sains. Padahal, meskipun ada upaya-upaya penilaian kembali,
mereka―seharusnya―masih tetap mengaitkan hubungan antara tradisi saintifik
Islam dan kemunculan sains modern. Sebab, secara pasti, tradisi saintifik Islam
berkontribusi kepada proses yang mengantarkan kemunculan tradisi saintifik
Eropa abad pertengahan, yang memandang alam dari perspektif yang tidak
sepenuhnya asing bagi perspektif Islam. Namun, keserupaan tersebut tidak pernah
lengkap, suatu hal yang wajar bagi dua peradaban yang berbeda. Sekalipun
demikian, ada bidang kesamaan dalam cara pandang dalam kedua tradisi tersebut
terhadap alam. Tetapi perspektif yang sama-sama dimiliki oleh kedua tradisi ini
hanya berumur singkat. Begitu abad pertengahan disingkirkan oleh renaissans dan
sains abad pertengahan disingkirkan oleh revolusi sains abad ke-17, wilayah
persamaan antara tradisi saintifik Islam dan sains baru yang muncul di Eropa
dengan cepat menyusut, dan akhirnya tak ada lagi yang tersisa dari kesamaan
lama tersebut.
Jurang
pemisah yang timbul semakin lebar dalam perkembangan waktu. Dinamika internal
peradaban Eropa pasca renaissains membawa kepada pencerahan akhir. Mula-mula
gagasan tentang kualitas-kualitas alam yang esensial yang merupakan bagian tak
terpisahkan dari materi dalam tradisi saintifik Islam maupun Yunani
ditinggalkan. Kemudian, penekanan bergeser kepada sifat sifat geometris dari
partikel (bentuk, ukuran, gerakan), dan akhirnya kepada matematisasi atas alam
dalam skala yang tak pernah terjadi sebelumnya. akibatnya, tradisi saintifik
Eropa pasca renaissans sama sekali berbeda dengan apa pun yang pernah diterima
dari tradisi saintifik Islam.
Sumber tulisan:
1.
Peters,
Ted, et.al. ed, God,
Life, and the Cosmos: Christian and Islamic Perspectives, Inggris:
Ashgate Publishing Ltd, 2002. Tuhan, Alam, Manusia Perspektif Sains
dan Agama, terj.
Ahsin Muhammad, et.al., Bandung: Mizan, 2006.
2.
Setia,
Adi, “Melacak Ulang Asal Usul Filsafat dan Sains Yunani Kuno”, slamia, Vol. III No.
1, Januari: 2006.
3.
Russell,
Bertrand, History
of Western Philosophy and its Connection with Political and Social
Circumstances from the earliest Times to the Present Day, London: 1946. Sejarah Filsafat
Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik dari Zaman Kuno hingga
Sekarang, terj.
Sigit Jatmiko et.al, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.
4.
Jauhari,
Moh. Idris, Ringkasan
Sejarah Nabi Muhammad SAW. Cet. V, Sumenep: Penerbit Mutiara Al Amien
Prenduan, 2002.
5.
Departemen
Agama RI, Alquran
dan Terjemahnya, Semarang:
PT. Tanjung Mas Inti, 1992.
6.
Asrohah,
Hanun, Sejarah
Pendidikan Islam, Jakarta:
Logos, 1999.
7.
Madjid,
Nurcholish, Islam
Doktrin dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang masalah Keimanan,
Kemanusiaan dan Kemoderenan, Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1992.
8.
Abdullah,
Taufik, ed, Ensiklopedi
Tematis Dunia Islam, Jakarta:
PT. Ichtiar Van Hoeve, tt.
9.
Akdogan,
Cemil, “Asal Usul Sains Modern dan Kontribusi Muslim”, terj. Taufik Leiden, Islamia Vol. I No. 4,
Januari-Maret: 2005.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Pikirlah baik-baik sebelum berkomentar...