Model Big Bang
Penemuan
Edwin Hubble pada tahun 1929 , yang menyatakan bahwa garis spektrum cahaya dari
galaksi-galaksi di luar Bima Sakti bergeser ke arah panjang gelombang yang
lebih besar atau mengalami geseran merah―berdasarkan Efek Dopler, merupakan
sebuah penemuan yang sangat menakjubkan. Penemuan yang sebelumnya talah
diprediksikan Friedman dan George LemaƮtre ini mempunyai konsekwensi: jika alam
semesta bergerak mundur jauh ke masa lampau, maka ia tentu jauh lebih rapat
daripada sekarang. Jarak antar galaksi pada saat itu pastilah nol. Maka pada
tahun 1946, George Gamow dari Universitas George Washington, dengan dibantu
Ralph Alpher dari Universitas Johns Hopkins dan Hans Bethe dari Universitas
Cornell, menyusun hipotesis: pada mulanya seluruh isi alam semesta ini berpadu
dalam tingkat kepadatan yang tidak terhingga (infinite density), lalu dengan
proses dentuman besar (Big Bang) maka terciptalah alam semesta ini. Inilah
”Hipotesis Alpha-Betha-Gamma”, diambil dari nama Alpher, Bethe dan Gamow. Mereka juga
memprediksikan bahwa radiasi dalam bentuk foton dari tahap dini alam semesta
yang sangat panas haruslah masih berkeliaran hingga saat sekarang, namun
temperaturnya telah mengalami penurunan yang drastis dan hanya menjadi beberapa
derajat nol mutlak (-2730C).
Pada
tahun 1964 M, James Peebles dan Robert Dicke dari Universitas Princeton
memprediksi hal yang serupa, bahwa jika benar alam semesta tercipta melalui
proses Big Bang, tentu sisa radiasi dentuman besar itu masih bisa diamati sampai
sekarang. Dan menurut perhitungan mereka, sisa radiasi itu setara dengan suhu
sekitar tiga sampai lima derajat Kelvin. Setahun kemudian, Arno Penzias dan
Robert Wilson dari Bell Telephone Laboratories di New Jersey, berhasil menangkap
sisa radiasi Big Bang itu dengan antena yang supersensitif dengan tanpa
sengaja. Radiasi ini tersebar secara seragam di segala penjuru jagat raya pada
tingkat sekitar tiga derajat Kelvin. Untuk membuktikan keberadaan radiasi ini,
maka pada tahun 1989 M, NASA mengirimkan satelit Cosmic Background Explorer
(COBE) ke ruang angkasa. Hanya memerlukan 8 menit bagi COBE untuk membuktikan
perhitungan Penzias dan Wilson. COBE telah menemukan radiasi yang merupakan
sisa dari peristiwa dentuman besar pada waktu terciptanya alam semesta di masa
silam, yang disebut sebagai “Radiasi Latar Belakang Kosmis”. Radiasi ini
diprakirakan dapat terlacak pada temperatur yang sangat rendah, yaitu antara
-2680
C
sampai -2230
C.
Sedangkan
prediksi Alpher, Bethe dan Gamow mengenai tahap dini alam semesta agak kurang
tepat, sebab ketika makalah mereka ditulis, penjelasan mengenai reaksi nuklir
proton dan neutron belum banyak diketahui. Dan saat ini telah diadakan
perhitungan berdasar pengetahuan yang lebih baik dan sekarang sangat cocok
dengan hasil pengamatan.
Kejadian-kejadian
yang mungkin didefinisikan oleh para ahli fisika di mulai pada 10-43 detik, yang
merupakan unit waktu terkecil. Pada tahap ini disebut era Planck. Tahap pemuaian
ini menunjukkan bahwa perilaku alam semesta ditentukan oleh efek kuantum,
dengan temperatur lebih dari 1032 K. Dalam era Planck yaitu kurun
pertama terciptanya alam semesta kelihatannya gravitasi dikuantisasi dan masih
bergabung dengan gaya lainnya yang terdapat dalam alam semesta. Jadi nampaknya
Cuma ada satu gaya alam dengan empat komponen. Salah satu fenomena utama kuantum
mekanika pada era Planck ialah penciptaan partikel yang berpasang-pasangan.
Setelah
alam semesta menempuh era Planck, maka ia memasuki era yang kedua, yang disebut
era Hadron yang lamanya t = 10-43 detik sampai t = 7 x 10-5 detik. Dalam
era Hadron, jika temperatur lebih dari 1.6 x 10-12 K banyak
terbentuk meson dan anti meson. Nukleon (yaitu proton dan neutron) banyak
terbentuk bila temperatur lebih dari 1013 K. Pada t = 10-35 detik masih
ada satu gaya, tetapi pada t = 10-12 detik sudah lahir gaya electroweak, yaitu
gabungan gaya elektromagnetik dan gaya lemah nuklir.
Selanjutnya,
alam semesta memasuki era Lepton, yaitu suatu kurun waktu dari t = 7 x 10-5 detik
(temperatur 1.6 x 1012
K)
hingga t = 5 detik (temperatur 6 x 109 K).
Era
keempat dari alam semesta disebut era radiasi, berlangsung dari t = 5 detik
sampai t = 5 x 105
tahun
(temperatur menurun dari 6 x 109 K menjadi 4 x 103 K). Dalam era ini proses
radiasi masih dominan daripada pembentukan materi, masih lebih banyak photon.
Dalam era radiasi ini terjadi fenomena penting sejak dari t = 10 detik sampai t
= 3 min 45 detik (temperatur T = 0.9 x 109 K), yaitu proses nucleosynthesis dari
unsur-unsur ringan seperti deuteriumdan helium. Ketika suhu mencapai 1010 K proton dan
netron mulai mampu bergabung membentuk inti atom.
Era
kelima (era materi pertama) yang berlangsung dari t = 7 x 105 sampai t = 3 x
108
tahun
ialah era pembentukan protogalaxy
dan
protocluster
oleh
mekanisme: 1) ketidakstabilan gravitasi, dan 2) turbulans yang berasal dari
alam semesta tatkala masih awal.
Era
keenam, yaitu keruntuhan protogalaksi untuk membentuk galaksi galaksi seperti
yang diamati dewasa ini (t = 3 x 108 tahun sampai sekarang). Pembentukan
galaksi dari protogalaksi didasarkan atas peristiwa runtuhnya protogalaksi.
Dalam peristiwa ini materi dari protogalaksi (bintang bintang atau gas)
bergerak dengan kecepatan tinggi menuju ke suatu pusat, tanpa ada gaya yang
melawannnya. “Waktu runtuh” sama dengan waktu jatuh bebas dari materi di dalam
galaksi. Jadi ada dua skenario yang melukiskan runtuhnya protogalaksi untuk
membentuk galaksi. Skenario pertama terjadi jika protogalaksi adalah gas, skenario
kedua terjadi jika protogalaksi adalah bintang.
Dengan
demikian, ada enam era di mana alam semesta terbentuk, dimulai dari ledakan itu
terjadi hingga sekarang yang terus memuai. Lalu kapankah kira kira peristiwa
dentuman besar itu terjadi? Berapakah usia alam semesta sekarang ini? Untuk
menjawab pertanyaan ini, kita perlu berkenalan dengan apa yang disebut Tetapan
Hubble (H), yaitu kecepatan galaksi galaksi saling menjauh, yang kini
disepakati angkanya oleh para ilmuwan: 54 kilometer per detik per megaparsec.
Satu megaparsec adalah 3,26 juta tahun cahaya. Artinya galaksi galaksi dengan
jarak 3,26 juta tahun cahaya saling menjauh dengan kecepatan 54 km/detik. Oleh
karena kecepatan cahaya adalah 300.000 km/detik, dan waktu adalah jarak dibagi
kecepatan (jika Anda mengendarai mobil sejauh 300 km dengan kecepatan 60
km/jam, waktu yang Anda perlukan adalah 5 jam), maka usia alam semesta sekarang
adalah 3,26 x 106
x
3 x 105
dibagi
54, yaitu 1,81 x 1010
tahun
atau sekitar 18 milyar tahun.
Pada
artikel selanjutnya akan dibahas keenam era pembentukan alam semesta tersebut.
Sampai jumpa di postingan berikutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Pikirlah baik-baik sebelum berkomentar...